"Masalah Sosial Kronis di Korea Selatan"
Hidup di Korea Selatan (lebih sering disebut Korea) memang banyak memberikan kemudahan dan kenyamanan fasilitas dan infrastrukur. Negara yang memiliki akses internet tercepat di dunia versi Akamai (2015) ini banyak memberikan kemudahan dalam berbagai kebutuhan kehidupan warga khususnya terkait fasilitas umum seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan, serta banyaknya sarana rekreasi publik yang tertata dan terpelihara dengan baik.
Namun seluruh kemudahan fasilitas dan kenyamanan infrastruktur tersebut ternyata tidak mampu menutupi dan mengurangi berbagai kerusakan sosial, khususnya kehidupan keluarga masyarakat Negeri Ginseng ini. Setidaknya ada beberapa masalah sosial yang dialami Korea saat ini, diantaranya depopulasi akibat rendahnya tingkat kelahiran, turunnya tingkat perkawinan, meningkatnya populasi masyarakat yang hidup sendiri, fase masyarakat tua (aged society), tingginya tingkat stress istri pada usia pernikahan yang panjang hingga berkembangnya fenomena ‘jolhon’ (marriage graduation), serta upaya pembentukan keluarga legal tanpa ikatan darah dan perkawinan.
Hidup di Korea Selatan (lebih sering disebut Korea) memang banyak memberikan kemudahan dan kenyamanan fasilitas dan infrastrukur. Negara yang memiliki akses internet tercepat di dunia versi Akamai (2015) ini banyak memberikan kemudahan dalam berbagai kebutuhan kehidupan warga khususnya terkait fasilitas umum seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan, serta banyaknya sarana rekreasi publik yang tertata dan terpelihara dengan baik.
Namun seluruh kemudahan fasilitas dan kenyamanan infrastruktur tersebut ternyata tidak mampu menutupi dan mengurangi berbagai kerusakan sosial, khususnya kehidupan keluarga masyarakat Negeri Ginseng ini. Setidaknya ada beberapa masalah sosial yang dialami Korea saat ini, diantaranya depopulasi akibat rendahnya tingkat kelahiran, turunnya tingkat perkawinan, meningkatnya populasi masyarakat yang hidup sendiri, fase masyarakat tua (aged society), tingginya tingkat stress istri pada usia pernikahan yang panjang hingga berkembangnya fenomena ‘jolhon’ (marriage graduation), serta upaya pembentukan keluarga legal tanpa ikatan darah dan perkawinan.



















