Selasa, 17 Februari 2015

"Hakikat Kehidupan Dunia"

"Hakikat Kehidupan Dunia"



Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Dunia itu hijau dan manis” (HR. Muslim no. 7124). Namun, dunia juga merupakan cobaan. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya(QS. Al Kahfi: 7).

(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al Mulk: 2)
Para ulama telah memperingatkan kita akan bahaya dunia jika tidak dipahami secara benar. Imam Ghazali dalam kitabnya, Al Ihya, menulis satu bab khusus berisi tentang hakikat dunia dan seluk beluknya secara mendetail. Hadits-hadits yang secara tegas menggambarkan betapa hinanya dunia pun sangatlah banyak.

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melewati sebuah bangkai kambing yang tergeletak di tanah, lalu beliau bersabda, “Tidakkah kalian lihat betapa hinanya bangkai ini?”. Para sahabat menjawab, “Karena hina itulah pemiliknya membuangnya, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau bersumpah, “Demi Allah yang menggenggam jiwaku, sungguh dunia lebih hina di mata Allah daripada bangkai kambing ini. Andaikan dunia setara dengan sayap nyamuk saja, niscaya orang kafir takkan diberi minum.” (HR. Ibnu Majah, Hakim, Tirmidzi)

Itulah harga dunia yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kepada kita. Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

"Barangsiapa mencintai dunianya, maka ia harus siap mengorbankan akhiratnya. Dan barang siapa mencintai akhiratnya, maka ia harus rela mengorbankan dunianya. Maka pilihlah di antara dua hal tersebut yang paling kekal dan tinggalkanlah yang fana". (HR. Ahmad, Bazzar, Ibnu Hibban, Hakim, ia mensahihkannya)

Seperti kita ketahui bersama, penjara adalah sebuah tempat yang amat tidak disukai. Dalam penjara manusia tak menemukan kebebasan. Banyak kekang dan larangan di sana-sini. Banyak aturan dan “tetek-bengek” yang harus ditaati. Demikian pula dunia ini.
Bagi seorang mukmin, dunia tak ubahnya sebuah penjara yang mengekang kebebasannya. Ada batas halal-haram yang tak boleh diterjang. Ada aturan-aturan yang tak boleh ditentang. Ada saat-saat tertentu ia tidak diperbolehkan makan, minum dan berjima. Ada saat-saat tertentu ia harus bangun dari tidur, lalu mengambil air untuk mensucikan dirinya lalu berdiri menghadap Rabbnya. Ada makanan, minuman, dan kenikmatan-kenikmatan lainnya yang tidak boleh dikonsumsi. Segalanya penuh dengan rambu-rambu.

Sementara bagi orang kafir, dunia adalah surga yang penuh kenikmatan. Tak ada istilah haram dalam kamus mereka. Mereka hidup dalam kebebasan. Aturan tak mereka indahkan. Larangan mereka terjang. Mereka dapat hidup semaunya. Yang haram bisa jadi halal asalkan sesuai hawa nafsu mereka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan mereka dalam firman-Nya:

"Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka". (QS. Muhammad: 12)
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)".(QS. Al Hijr: 3)

Orang kafir tidak memahami bahwa masih ada kehidupan lagi setelah kehidupan di dunia ini. Mereka tak mengerti bahwa dunia pada hakikatnya adalah ruang ujian, tempat menyeleksi para peserta ujian yang berhak memasuki kehidupan sebenarnya. Oleh karena itu, mereka tak pernah berpikir sedikit pun untuk mempersiapkan kehidupan baru tersebut. Orientasi mereka hanyalah menuruti kemauan hawa nafsu dan memuaskannya. Mereka tak ubahnya seperti binatang ternak yang hanya memikirkan urusan “perut dan bawah perut”. Padahal, tak ada kenikmatan yang abadi di dunia ini. Semuanya semu, semuanya sementara dan semuanya hanya sedikit.

"Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit". (QS. At Taubah: 38)

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memuji orang-orang mukmin dan menyebut mereka sebagai orang-orang cerdas, “Orang cerdas adalah orang yang mengekang hawa nafsunya dan mempersiapkan perbekalan untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya lalu berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memperingatkan orang-orang mukmin agar tidak merasa iri dengan kenikmatan yang diberikan kepada sebagian hamba-Nya yang lain dalam masalah dunia.

"Jangan kamu arahkan pandanganmu kepada kenikmatan (duniawi) yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai hiasan dunia saja, untuk Kami uji mereka dengannya. Karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal"
. (QS. Thaha: 131).

Di mata para nabi dan orang-orang shaleh, dunia tak memiliki nilai sama sekali. Mencintai dunia merupakan sumber malapetaka (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman). Segala macam kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, sebagian besarnya disebabkan oleh cinta dunia. Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, permusuhan sesama saudara karena masalah harta warisan, iri dan dengki karena keberhasilan orang lain dan kerusakan-kerusakan lainnya merupakan buah dari menipisnya keimanan terhadap Hari Akhir dan kecintaan terhadap dunia yang berlebihan.

Oleh karena itu, para ulama selalu memperingatkan kita agar tidak terlena dengan tipu daya dunia yang tampak indah di mata. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya kecuali yang ditujukan untuk Allah”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dunia, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ghazali dalam kitab Al Ihya, terbagi menjadi tiga kategori:

(1) Pertama, segala sesuatu yang hanya dapat kita rasakan ketika kita masih hidup dan tak dapat bermanfaat di akhirat. Kenikmatan ketika melakukan kemaksiatan, perkara-perkara mubah yang berlebihan, bersenang-senang dengan perkara-perkara duniawi seperti harta, wanita, anak, kendaraan, makanan, pakaian dan lain sebagainya merupakan contohnya.

(2) Kedua, segala sesuatu yang akan terus menemani kita sampai di akhirat dan hasilnya dapat kita nikmati di sana. Kategori ini hanya mencakup dua hal, yaitu ilmu dan amal.

(3) Ketiga, pertengahan antara yang pertama dengan kedua, yaitu segala sesuatu yang kita rasakan di dunia namun dapat menopang kehidupan di akhirat. Kategori ini merupakan kebutuhan primer yang tak dapat terlepas dari manusia, yaitu kebutuhan yang harus tercukupi demi mempertahankan kelangsungan hidup manusia, seperti makanan secukupnya, pakaian, tempat tinggal dan kesehatan jasmani. Jika kategori ketiga ini dimanfaatkan dengan baik untuk menghasilkan ilmu dan amal, maka ia berubah menjadi kategori kedua. Namun jika tidak, maka ia menjadi kategori pertama.

Di antara ketiga kategori di atas, bagian pertamalah yang dimaksud dengan dunia yang tercela. Itulah dunia yang sangat berbahaya dan mematikan. Meminumnya sama dengan menenggak racun. Menjauhinya merupakan jalan keselamatan. Semoga kita diselamatkan dari fitnah dunia. Amin.

Wallahu a’lamu bis showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar