Jumat, 09 Mei 2014

"Memberi Nasihat"

"ADAB MENASIHATI ORANG LAIN"



Pernah dengar ada yang bilang, "Ngapain 'ngurus' orang lain? Urus diri sendiri aja sana!!" ?? Atau kita sendiri yang sering mengatakannya kepada teman/kerabat ketika mereka memberi nasihat?

Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallaam mengatakan, “seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya,” (HR. Al-Bukhari). Ini lho kenapa kita harus 'mengurusi orang lain', sambil terus memperbaiki diri muslim pun harus saling menasihati dalam kebaikan.

Ah ya namanya manusia, kadang niat sudah lurus menasihati tapi tak jarang malah menyakiti. :))

Berikut adab dalam memberi nasehat kepada orang lain yang di sarikan dari buku berjudul: “Selembut Perkataan Nabimu – Kiat agar Nasihat Laksana Embun Yang Menyejukkan”, karya Muhammad Abu Shu’ailaik.

1. Ikhlaskan niat
Niatkan bahwa nasihat yang kita sampaikan ini benar-benar karena mengharap ridho Allah Subhanahu Wa Ta'ala. In syaa Allah akan dibalas dengan pahala.

2. Menjaga rahasia
Imam Abu Hatim bin Hibban Al Busti rahimahumullah berkata: “Namun nasehat tidaklah wajib diberikan kecuali dengan cara rahasia. Karena orang yang menasehati saudaranya secara terang-terangan pada sejatinya ia telah memperburuknya (keadaan penerima nasehat). Barangsiapa yang memberinasehat secara rahasia, maka dia telah menghiasinya. Maka menyampaikan sesuatu kepada seseorang muslim dengan cara menghiasinya, lebih utama daripada bermaksud untuk memburukkannya”. (Raudhatul Uqala’, hlm 196)

Nah, kalau ada teman yang nulis status kurang baik mending kita 'ceramahi' di comment box atau privat message. Atau kalau sedang evaluasi acara bagus kita tidak terang-terangan dan sebut nama si A/si B/si C dan menyalahkannya.

3. Lemah lembut
“Sesungguhnya kelemahlembutan tidaklah berada dalam sesuatu kecuali menghiasinya. Dan tidaklah terpisah dari sesuatu kecuali ia perburuk.” (HR. Muslim)

Berlian itu bagus, tapi kalau ngasihnya dilempar 'kan sakit. Sebaiknya dibungkus rapi, diberikan lewat kasih sayang, pasti yang menerima lapang dada (banget). Nasihat juga seperti itu, indah, berharga, tapi kalau memberinya dengan suara keras, nada tinggi, dan muka jutek, kira-kira yang menerima gimana?? Yuk perbaiki lagi.

4. Tidak memaksa
Menasihati berarti mengarahkan/ menunjukkan jalan yang benar sehingga hak penasihat ya hanya menyampaikan saja. Jangan ngotot. Kalau menasihati teman biar pakai jilbab masa nyerah? Bukan nyerah, coba cari cara lain yang beda.

5. Tepat kondisi
Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu berkata: “Hati itu memiliki rasa suka dan keterbukaan. Hati juga memiliki kemalasan dan penolakan. Maka raihlah ketika ia suka dan menerima. Dan tinggalkanlah ia ketika ia malas dan menolak.” (Al –Adab Asy-Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih)

Kalau teman lagi marah-marah itu emosinya labil, sensitif, apa jadinya kalau kita 'ceramah' panjang lebar? Selain akan tambah emosi, saat itu hatinya tengah tidak siap menerima nasihat. Pilihlah waktu dan tempat yang pas, insyaa Allah akan diterima.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga tak hanya dibaca tapi juga dipikirkan. Karena tanpa kita sadari beberapa nasihat justru melukai.

Sumber: FP Kata-Kata Hikmah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar