Jumat, 24 Januari 2014

"Hutang 2 Rakaat"

"Hutang Dua Rakaat"


Buat yang sudah mengikuti tausiah-tausiah ustadz Yusuf Mansur, sudah tahu tentang dhuha, dan sudah terbiasa dhuha, mudah-mudahan jadi tambahan ilmu.

Apa sih shalat dhuha? kalau di indonesia, nyebut gampangnya, shalat sunnah yang dilakukan diwaktu dhuha (pagi hari).
Setiap hari kita "hutang" dua rakaat dhuha sama Allah. Hutang sebab kita makai badan & karunia-karunia pemberian Allah. Kalaulah bayarnya pakai uang, niscaya tidak akan ada yang bisa bayar. Ya, Allah menuntut bayaran dari manusia atas segala karunia yang Allah berikan kepada kita. Dari ujung kapala sampai ujung kaki, dari pagi sampai pagi lagi.

Sungguh, tidak akan ada yang mampu membayarnya.

Karena Kasih Sayang Allah, Allah mencukupkan shalat Dhuha 2 Rakaat sebagai "bayaran" atas segala karunia-Nya kepada kita, dan tiadalah lagi tercatat kita berhutang pada-Nya. Subhanallah

pada setiap manusia terdapat tiga ratus empat puluh sendi. Setiap satu sendi harus disedekahi olehnya. Para sahabat Rasul bertanya, siapa yang sanggup melakukanya wahai Rasulallah? Rasul bersabda , jika terdapat kotoran di masjid, tutuplah dengan tanah (buang bersihkan), dan jika ada sesuatu yang merintangi jalanan, jauhkanlah. Jika engkau tidak sanggup melakukanya maka shalat dhuha dua rakaat cukuplah sebagai penggantinya bagimu." (HR. Imam Ahmad),

Setiap pagi semua anggota badan masing-masing dari kalian wajib disedekahi. Setiap kali tasbih adalah sedekah. Setiap kali tahmid adalah sedekah. setiap kali tahlil adalah sedekah. Setiap kali takbir adalah sedekah. Amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah sedekah. Semuanya terpenuhi dengan dua rakaat shalat dhuha." (HR. Muslim).

Yang namanya HUTANG, ya DITAGIH. Ada yang langsung ditagih, ada yang entar-entaran ditagihnya. Tapi ya pasti ditagih.

Dalam urusan shalat Dhuha, tidaklah salah jika saya bilang bahwa tiap hari kita berhutang 2 rakaat. Sudah dimudahkan dan dimurahkan bayaranya, kita masih saja males. Subhanallah, nastaghfirullah. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kita.

Jika kita tiada sholat dhuha dalam satu hari, maka rizki kita satu hari itu habis untuk bayar utang saja. Buat hutang karunia Allah. Itu pun harusnya masih belum cukup. Lihat saja, kita pakai tubuh ini, badan ini, semua dari Allah. Gak bisa napas sekian detik saja, sudah harus pakek alat bantu pernapasan. Coba tanya berapa duit tuh kalau pakai alat bantu pernapasan? Sedang yang kita pakai bukan saja alat bantu pernapasan, melainkan sistem pernapasan. Itu masih bertambah-tambah dengan sistem pencernaan, sistem pendengaran, sistem pengelihatan, syaraf, dan wuah, gak kehitung dah.

Dalam satu kesempatan tausiyah kepada karyawan yang terkena musibah tabungam hilang setelah setahun penuh menabung, atau pengusaha yang sekian tahun berusaha, saya suka bertanya: Dhuha gak selama ini? jika jawabanya enggak dhuha atau jarang, maka wajarlah jika tidak punya apa-apa. Sebab memang diambil oleh Allah buat bayar hutang. Kacau gak tuh?

"perhitungan hutang", tetap berlaku dan dijalankan Allah. Maka apa yang didapat oleh seseorang atau yang dihasilkan, akan diambil ulang oleh Allah sebagai kewajiban terhutang. Apa lagi kalau kemudian maksiat dan hal-hal yang wajib tiada ia lakukan, pasti bertambah-tambah minusnya.

Ambil kertas, dan coret-coret, berapa "hutang" shalat dhuha saudara?

Jika saudara umurnya saat ini 40 tahun, maka kurangi masa baligh 10 tahun. Didapatlah 30 tahun "masa efektif" pemberlakukan hutang. jika setahun terdiri dari 365 hari, maka 365 hari dikali 2 rakaat dikali 30 tahun? Wow!!! Banyak banget yak hutangnya???!!! 21.900 rakaat hutangnya

Itu belum kehitung jika Saudara adalah ayah dari 3 anak. dan suami dari 1 istri. Dan ditambah pembantu dan supir 1. Semua hutang orang-orang tersebut, menjadi hutang saudara juga. Sebab apa? Sebab Rasul bersabda 'Alaikum bish sholaah, wa maa malakat aymaanikum; wajib atasmu sholat dan shalatnya orang-orang yang ada di pundakmu.

Coba kita iseng hitung. Misal anak si ayah ini 3. Yang sudah melewati baligh semuanya. Yang satu 18 tahun, yang satu 17 tahun, dan yang satu 15 tahun. Dan 3 anak ini, ada hutang dhuha sebanyak 14.600 rakaat. Itu jika dihitung masing-masing baligh diusia 10 tahun. plus istri yang katakanlah 20 tahun menjadi isteri dan dilalah istri juga tidak mengerjakan sholat dhuha, ugh, banyak banget dah. Bertambah: 14.600 rakaat. Plus dua orang pembantu dan supir yang juga berkhidmat sama-sama 20 tahun: 29.200 rakaat. Maka jumlah total hutang ayah tersebut adalah sebanyak: 21.900 + 14.600 + 29.200 = 65.700 rakaat!!!

Jumlah itu masih bertambah-tambah lagi jika saudara adalah seorang pimpinan dikantor dengan membawahi -misalnya - 100 karyawan. Dan selama saudara memimpin karyawan tersebut, saudara tidak pernah sekalipun bicara tentang dhuha, dan mengajak dhuha. Maka, berapa tahun saudara memimpin, dikali 100 karyawan...?? Ampuuuuuuunnn dah. Katakanlah 10 tahun memimpin . 365 × 2 × 10 × 100 atau sama dengan bertambah hutang sebanyak 730.000 rakaat. Alangkah banyaknya hutang kita sama Allah...

Sekarang bayangkan juga bila saudara adalah kepala sekolah dengan 2000 murid, atau pimpinan perguruan tinggi dengan 10 ribu mahasiswa? wuih, begidik saya membayangkan. Bayangkan lagi jika Saudara adalah seorang lurah, camat, seorang walikota, seorang gubernur, seorang presiden..????

Dalemin dah soal dhuha ini. Dhuha termasuk bahagian sunnah muakkadah. Sunnah yang teramat penting. Yang kalau ditinggalkan akan banyak masalah,,

SUBHANALLAH

Sumber: "Islamic Motivation", Catatan 7 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar