Kamis, 16 Januari 2014

"Awan Hujan"

"Awan Hujan"

Beberapa komentar dari kita saat terlihat awan mendung dan turun hujan:

"aduh..mendung lagi! Ga jd jln2 deh.."
"jngn ujan please!"
"Sial! baru aja nyuci mobil. Udah mw ujan lgi..Hff"
"Motor kinclongku bakal belepotan lagi nieh!"
"Cuaca Buruk Melanda"
"alhamdulillaah.. Allaahumma shoyyiban naafi'an"
dan masih banyak lagi....




“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” [Al Qur’an Surat An Nur (24):43]



Subhanallaah..

Jika kita lihat dengan sepenuh hati, akan terasa keindahan awan. Entah itu awan cerah ataupun awan mendung, baik awan tipis maupun awan tebal. Keduanya sama-sama indah dan menunjukkan keagungan Allah subhanahu wata'ala.

Namun sayangnya, masih banyak yang kurang tepat dalam menyambut keajaiban alam yang begitu indah tersebut. Alih-alih merasa dirugikan, kebanyakan kita malah tidak bersyukur. Banyak di antara kita yang menyesalkan datangnya awan hujan, lebih parah lagi banyak yang cenderung mengumpat!

Tidak jarang, keluhan-keluhan dan umpatan-umpatan tersebut, kita ungkapkan di jejaring sosial, termasuk di status aplikasi tukar pesan di ponsel pintar. Begitu pun yang banyak diungkapkan oleh media (baik cetak maupun elektronik). Semua media seolah kompak dengan kebanyakan kita. Menyalahkan cuaca (sampai menyebut dengan istilah 'CUACA BURUK!' Astaghfirullaah..). Media semakin memperkuat anggapan bahwa semua adalah salah cuaca. Semua adalah salah awan mendung. Semua adalah salah hujan. Seperti sebagian ungkapan di awal tulisan ini. Lalu setelah kita ungkapkan, apa yang kita dapatkan? Mari kita jawab sendiri dalam hati kita masing-masing.  

Kita mesti istighfar sebanyak-banyaknya. Astaghfirullaah.. 

Hal yang perlu kita renungkan adalah bahwa segala sesuatu yang Allah subhaanahu wata'ala berikan dan turunkan adalah nikmat. Hendaknya kita mensyukurinya, bukan sebaliknya. Karena Allah subhaanahu wata'ala sudah jauh-jauh hari mengingatkan:


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ


“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”[Al Quran Surat Ibrahim (14): 7]

Peringatan dari Allah subhaanahu wata'ala untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepada manusia, bahwa jika manusia mensyukuri nikmatNya maka akan ditambahkan nikmat kepadanya dengan berbagai kenikmatan lain dari-Nya. Dan jika manusia mengingkari nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, maka Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang sangat pedih baik adzab di dunia (dengan dicabutnya kenikmatan di dunia) maupun di akhirat.

Mari kita renungkan kembali.
Apakah musibah dan bencana yang selalu berulang terjadi saat musim hujan tiba (banjir, tanah longsor, dan sejenisnya) adalah adzab yang Allah subhaanahu wata'ala turunkan karena kebanyakan kita yang mengeluh dan mengumpat saat hujan datang?

Na'udzu billaah..



Tidak sedikit juga diantara kita yang menyambut awan hujan dengan rasa syukur. Seperti yang telah dikutip dari Annida-Online, lengkapnya sebagai berikut:

Menurut pakar hujanmatika yang tidak mau disebut namanya, musim hujan ternyata berkaitan erat dengan karakter manusia, yang terbaca melalui status&twit mereka. Ini dia sedikit pemaparannya...

1. "Siaaaallll! Hujan lagi hujan lagi. Kan jalanan jadi becek. Mana motor baru dicuci. Sepatu baru beli... Argh!"

Ini dia nih tipe manusia susah bersyukur. Jelas-jelas hujan itu rahmat Allah buat seluruh penduduk bumi, eeeh dia malah ngeluuuh terus. Lagian kan motor kotor bisa dicuci, en sepatu basah juga bisa dijemur. Bukan begituh? Yang masih suka nulis status kayak begini, yuk sedikit-sedikit dikurangi.

2. "Hujan ini mengingatkanku pada seseorang. Dan seseorang itu... kamu. ~nyanyian hujan"

Pasti  paham betul tipe macam apa pemilik status/twit ini. Yap, romantis! Gak cuma pas musim hujan aja, dink. Musim kemarau, musim rambutan, sampai musim janur kuning bertebaran di sepanjang jalan pun bawaannya mau nulis status/ngetwit yang romantis-romantis mulluuu.

Hehe, sah-sah aja sih berromantis-romantis ria di sosial media, asal hati mesti dijaga. Kan kata peribahasa: mulutmu harimaumu. Jangan sampe deh status-status kita bikin hati kian menggalau. Apalagi malah jadi bikin penggalauan masal seseantero facebook/twitter! Musibah dah. Hehe.

3. "Alah... baru juga hujan air! Sekolah tetap sekolah, ngaji tetap ngaji. Gak ada alasan!"

Mantab abisss! Pemilik status yang satu ini--kalo bukan lagi pencitraan-dijamin punya semangat djoeang '45! Semangatnya melakukan sesuatu gak bakalan luntur cuma karena hal-hal sepele. Eh tapi lain cerita ya kalo ternyata status/twit-nya ternyata cuma pencitraan belaka. Itu sih namanya Tuti aka Tukang Tipu. Menjadikan sosial media buat mempromote diri. Eh capek deeeh... di dunia maya aja gak jujur, apalagi di dunia nyata! Iya gak?

4. "Pagiii, dunia...! Eh, hujan ya di luar? *tarik selimut*"

Pemilik status ini kemungkinannya cuma dua: itu orang males beneran atau cuma nyari sensasi. Biar pagi-pagi ada yang komen/reply gitu. Hehe. Apa jangan-jangan masih ada kemungkinan ke-tiga dan seterusnya? Soalnya cukup banyak yang menulis status/twit macam gini. Mungkin bisa diteliti lebih lanjut buat kita yang mau meneliti. *kerajinan.com ^__^

5. "Allahumma shoyyiban naafi'an"

Nah, ini dia nih status/twit yang mesti, kudu, wajib 'ain dicontoh! Pas hujan turun, berdoa deh... moga-moga Allah turunkan hujan yang bermanfaat. Lebih gaul lagi kalo ditambah dengan doa pribadi lainnya. Soalnya ini dia (musim hujan) salah satu waktu yang mustajab atau pas buat berdoa. Dijamin qobul deh doanya!

6." Yeeeeaaah... hujan! Time to cari duit! *payung mana payung*"

Hehe, ini mah jelas banget ya status/twit-nya tukang ojek payung... Emang bener deh, hujan itu rezeki dari Allah. Salah satunya buat para tukang ojek payung!


Sampai di sini dulu ulasan tentang awan dan hujan. Semoga kita selalu mendapat bimbingan Allah subhaanahu wata'ala untuk menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur. Aaamiin.

*dari berbagai sumber
 Oleh: Fauzi Daeji Ahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar