Jumat, 09 Mei 2014

"Tukang (Isi) Pulsa"

"Tukang Isi Pulsa"


Hari ini saya ingin sharing tentang pengalaman saya jadi tukang isi pulsa. Awalnya, saya memisahkan budget pemakaian pulsa dengan cara mendepositkannya. Tujuan lainnya, agar saya dapat membeli pulsa dengan harga murah. Keuntungan lainnya, saya tidak perlu repot mencari kios pulsa, mengisinya dengan lebih cepat serta mengefektifkan waktu saya jika ada keluarga dekat sewaktu-waktu memerlukan nya.

Lambat laun, teman-teman dekat dan para sahabat sekantor jadi tahu kalau saya jualan pulsa. Dari satu teman, berkembang menjadi keluarganya. Bahkan ada juga teman yang sudah resign, masih tetap berlangganan meski tidak satu kantor lagi. Untuk yang di luar kantor, bagaimana pembayarannya? Gampang! Tinggal transfer. Sekarang tidak perlu repot, semua serba elektrik. Saya bisa mengeceknya melalui layanan mobile atau sms banking. Tentu saja, modalnya cuman `trust`.

Awal `kerepotan` bermula dari sini. Cadangan deposit yang semestinya saya jaga agar tidak boleh dibiarkan menipis apa lagi sampai habis. Bagaimana agar dananya bisa tetap ada, sebisa mungkin jangan sampai ada yang berutang terlalu larna, apalagi sampai tidak bayar. Sempat saya putus asa, ingin berhenti karena repotnya jadi tukang isi pulsa. Di mana perputaran dananya harus saya jaga. Kerjaannya tidak pernah lepas dengan ponsel dan menarikin tagihan pulsa. Tidak boleh telat ngisinya, karena di ujung no ponsel yang meminta pulsa sering kali mereka memang benar-benar membutuhkan pulsa untuk berkomunikasi dengan keluarga dekat, sahabat, atau mitra bisnisnya.

Pengalaman mengesankan ketika suatu siang saya menunda proses pengisian pulsa, padahal kalau dilakukan tidak memakan waktu banyak namun saya mengabaikannya, tenggelam dalam rutinitas pekerjaan dan akhirnya lupa. Baru saya proses ketika sore menjelang pulang. Keesokan harinya, pelanggan itu menceritakan pengalaman saat saya kemaren terlam­bat mengisi pulsa. Ia sedang ada di tol dan mobilnya mogok di jalan. SMS yang dikirimkan ke saya adalah yang terakhir kalinya. Ia berharap pulsa yang tak kunjung tiba dan bantuan datang menjemputnya.

Kejadian lainnya, pelanggan lainnya menelepon tengah malam waktu saat waktu hampir berganti tanggal. Ia sedang di rumah sakit, mengurus saudaranya yang sakit. Ia kehabisan pulsa karena harus kontak ke sana ke mari urusan Rumah Sakit dan keluarganya. Untungnya, saya masih belum tidur. Telepon saya angkat dan saya penuhi permintaan pulsanya. Namun paginya, saya dapat sms bahwa saudaranya sudah meninggal dunia.

Ada juga kejadian yang unik, setelah Sholat Magrib. Dering telepon berbunyi, di tengah suara hujan yang sangat lebat sejak sore. Ia meminta pulsa. Esoknya, ia bercerita saat meminta pulsa di tengah derasnya air yang menghalanginya untuk bisa pulang ke rumah. Sementara ia tidak punya pulsa, begitu pula dengan keluarganya. Kekhawatiran menyelimutinya saat ia mengetahui keluarganya terjebak banjir. Pelanggan itu berterima kasih, ia baru bisa berhasil kontak keluarganya

Alhamdulillah kekhawatirannya sirna setelah ia men­dapat kabar bahwa keadaan keluarganya baik-baik saja. Kejadian demi kejadian yang tak terduga membuat saya banyak belajar dan tentunya tidak boleh kapok. Meski keuntungan jadi tukang isi pulsa marginnya kecil, tapi memiliki nilai manfaat luar biasa, seperti yang saya rasakan.


  • Pertama, membiasakan saya untuk selalu bertindak cepat.
  • Kedua, menuntut saya untuk lebih teliti karena saya harus memastikan nomor yang diisi adalah tepat, tidak salah alamat.
  • Ketiga, menjaga untuk terus menyambung silaturrahim dengan para sahabat sahabat. Dan harapannya, semoga ikhtiar saya jadi tukang isi pulsa ini bisa bermanfaat dunia dan akhirat. Aamiin ya Rabb al 'alamiin.
Disadur dari buku Tuhan Tidak Tidur, Penulis: Havabe Dita Hijratullail, Jimmy Wahyudi Bharata; Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar