Jumat, 09 Mei 2014

"Alquran, Manusia, dan Alam"

"Alquran, Manusia dan Alam"


Konsep sederhana dari suatu sistem kehidupan adalah keutuhan hubungan (unity), yang untuk itu, sistem meniscayakan berlangsungnya harmoni hubungan antarkeseluruhan komponen yang membentuknya.

Mobil, sebagai contoh sistem mekanik, yang terbentuk dari hubungan ratusan komponen, bila salah satu hubungan komponennya terganggu, maka mobil itu akan mogok. Demikian halnya dengan badan manusia sebagai sistem biologis, yang terbentuk dari hubungan sekitar 100 triliiun sel, bila di tempat tertentu hubungan antar sel terputus, maka akan membengkak, bahkan bisa jadi membusuk.

Karena itu, disimpulkan bahwa formula kehidupan  sebagai sistem (sunnatullah) adalah keniscayaan adanya harmoni hubungan antarsemua komponen konstitutif dari sistem bersangkutan. Maka begitulah, hukum kehidupan ini, berlaku dalam keseluruhan sistem kehidupan, baik sistem kehidupan mikro maupun makro.

Dalam konteks sistem makro, keseluruhan sistem kehidupan ciptaan Allah, terdiri dari tiga (sub) sistem besar: sistem Alquran, sistem sosial (manusia) dan sistem  semesta (alam). Tiga komponen sistem kehidupan ini, sesuai desain Allah, telah diciptakan-Nya dengan peranan yang jelas dan harmoni hubungan antarketiganya.

Peranan manusia adalah sebagai khalifah Allah di bumi: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi" [QS Al-Baqarah (2):30]. Peranan alam semesta adalah sebagai sumber daya untuk mendukung keberhasilan kekhalifahan manusia: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu...” [QS  Al-Baqarah (2):29].

Dan peranan Alquran adalah sebagai petunjuk bagi manusia dalam melaksanakan tugas-tugas kekhalifahannya: “Kami turunkan kepadamu Al-kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” [QS Annahl (16):89].

Maka peranan manusia sebagai khalifah, meniscayakannya untuk selalu menggunakan (berhubungan dengan) Alquran yang berperan sebagai petunjuk hidupnya. Sehingga, tatkala manusia mengerjakan kemungkaran, itu berarti ia sengaja memutuskan harmoni hubungannya dengan Alquran. Maka hal ini, sesuai formula kehidupan di depan, pasti akan mencelakakan hidupnya.

Melakukan korupsi misalnya, bila ia tertangkap KPK, kendati ia pejabat tinggi sekalipun bila terbukti bersalah, maka sisa hidupnya akan berujung di penjara. Itu berarti kehidupan diri, anak, istri dan keluarga dekat lain akan terganggu. Persis seperti mobil yang mogok atau tubuh manusia yang luka  dalam contoh di depan.

Bila para koruptor dan semua orang yang telah mengerjakan kemungkaran tidak tertangkap di dunia, maka pengadilan Allah di akhirat pasti tidak akan membuat mereka lolos.

Karena Allah berfirman: “Luqman berkata, "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus [QS Luqman (31:16].

Begitu pula dengan hubungan manusia dengan alam. Seharusnya bersifat membangun dan memelihara dengan prinsip harmoni hubungan yang keberlanjutan. Bila sebaliknya, yaitu hubungan penguasaan dan ekploitasi, maka itu pasti mencelakakan manusia sendiri.  Stunami, banjir bandang, cuaca ekstrim adalah contoh-contoh yang telah terbukti mencelakakan banyak orang.

Maka, adalah keniscayaan bagi kita untuk menciptakan harmoni hubungan dengan Alquran dan alam. Dan ini akan terwujud hanya melalui pemahaman tentang alam (Iptek) dan Al-Quran (agama), serta integrasi keduanya melalui amalan (akhlak mulia).

Maka, marilah kita tumbuhkan keluarga kita menjadi keluarga yang di samping akrab dan ramah dengan alam sekitar, juga dan terutama sekali, menjadi keluarga yang ramah dan akrab dengan kitab suci kita: Al-Quranul Al-Karim. Fasih membacanya, paham maknanya dan mengamalkan pesan-pesanya. Sehingga, ‘rumah kita adalah surga kita’. Karena di dalamnya ada harmoni (sakinah), hubungan saling sapa dengan cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah).

Allah ‘alamu bishshawab.

Sumber: Republika
Oleh DR M Masri Muadz MSc  (Penulis buku Paradigma Al-Fatihah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar