Sabtu, 17 Mei 2014

"Al-Fatihah"

"Rahasia di dalam Surat Al-Fatihah"



Surat Al-Fatihah adalah salah satu surat Al-Quran yang mengandung rahasia yang dalam dan dikenal sebagai Ummul Kitab, induk Al-Quran, mencakup seluruh kandungan Al-Quran. Maknanya terbagi menjadi dua, separuh untuk Allah dan separuh lagi untuk hamba-Nya.

Tentang Rahasia surat Al-Fatihah, Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallaam juga bersabda:
Ketika Allah hendak menurunkan surat Al-Fatihah, ayat Kursi, surat Ali-Imran 18, 26-27, surat dan ayat itu bergelantung di Arasy dan tidak ada hijab dengan Allah.

Surat dan ayat itu berkata kepada-Nya: "Ya Rabbi, Engkau akan menurunkan kami ke alam dosa dan kepada orang yang bermaksiat kepada-Mu, sementara kami bergelantung dengan kesucian-Mu". Maka Allah subhaanahu wa ta'alaa berfirman: "Tidak ada seorang pun hamba yang membaca kalian setiap sesudah shalat kecuali Aku karuniakan padanya lingkaran kesucian di tempat ia berada, dan Aku memandangnya dengan mata-Ku yang tersembunyi dengan tujuh puluh kali pandangan setiap hari. Jika tidak, Aku tunaikan baginya setiap hari tujuh puluh hajat yang disertai pengampunan. Jika tidak, Aku melindungi dan menolongnya dari semua musuhnya."

Ayat Pertama: Untuk hamba-Ku adalah sesuatu yang ia mohon. Ketika ia membaca: Bismillahir Rahmanir Rahim, Allah Azza wa Jalla menyatakan: "Hamba-Ku telah memulai dengan nama-Ku, maka berhaklah Aku untuk menyempurnakan semua urusannya dan memberikan keberkahan dari sisi-Ku untuk seluruh keadaannya".

Ayat Kedua: Ketika hamba-Ku membaca: Alhamdulillahi Rabbil 'alamin, Allah Jalla jalaluh menyatakan: "Hamba-Ku telah memuji-Ku, mengakui bahwa semua nikmat yang dimilikinya berasal dari sisi-Ku, dan semua bala hanyalah Aku yang menyingkirkan sehingga ia merasakan itu sebagai karunia. Maka, hendaknya kalian saksikan, Aku akan menjamunya dengan kenikmatan akhirat lebih dari kenikmatan dunia yang telah Kuberikan, dan menyingkirkan bala akhirat sebagaimana Aku telah menyingkirkan bala dunia".

Ayat Ketiga: Ketika hamba-Ku membaca: Ar-Ramaanir Rahiim, Allah Jalla jalaluh menyatakan: "Hamba-Ku telah bersaksi bahwa Aku Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kalian saksikan, Aku akan melimpahkan rahmat-Ku kepadanya dan mencurahkan karunia-Ku kepadanya".

Ayat Keempat: Ketika hamba-Ku membaca: Maliki yaumiddiin, Allah Ta'alaa menyatakan: "Kalian saksikan, karena ia telah mengakui Aku sebagai Raja pada hari kiamat, maka Aku akan memberikan kemudahan baginya yaitu amalnya tidak akan dihisab, dan Aku akan mengampuni semua kesalahannya".

Ayat Kelima: Ketika hamba-Ku membaca: Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, Allah Azza wa Jalla menyatakan: "Dia hanya memohon pertolongan kepada-Ku dan hanya bersandar kepada-Ku. Kalian saksikan, Aku akan menolongnya dalam segala urusannya, Aku akan melindungi-Nya dalam segala deritanya, dan Aku akan memegang tangannya saat ia membutuhkan pertolongan".

Ayat Keenam: Ketika hamba-Ku membaca: Ihdinash shiraathal mustaqiim ... (sampai akhir surat), Allah Jalla jalaluh menyatakan: "Hamba-Ku telah memohon kepada-Ku, maka Aku pasti mengijabah permohonan hamba-Ku, memberikan apa yang diinginkan, dan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkan."

Ayat Ketujuh:  Shirathal mustaqiim adalah jalan yang lurus, jalan menuju Allah Ta'alaa. Tidak jarang manusia tersesat dari jalan ini sehingga ia mendapat murka Allah. Tergelincir darinya sehingga ia jatuh ke kubangan api neraka. Shiraathal Mustaqiim itu ada dua: Shiraathal mustaqiim di dunia dan Shiraathal mustaqiim di akhirat. Agar kita selamat dalam melintasi Shiraathal mustaqiim di akhirat, tidak tergelincir kemudian jatuh ke kubangan api neraka, maka kita harus berada di Shiraathal mustaqiim dunia, mengikuti tapak-tilas Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallaam dan Ahlul baitnya (sa), mematuhi bimbingan mereka.

Sumber: FP Perkumpulan Hadits Rasulullah Shollallaahu 'Alaihi Wasallaam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar